Bersih, Sehat, dan Mandiri Semenjak Dini

8 Aug 2014

“Mah, bentar aku siapin bekel dulu ya , kan kita mau pergi.”

Tiap kali mau bepergian Thifa (3th 7 bln) selalu rempong sendiri. Ambil wadah tupperware, kemudian mengisinya dengan nasi, lauk, atau kue-kue yang ada di meja.

Saya terbiasa bawa perbekalan kalau bepergian. Pertama biar irit, kedua membiasakan hidup sehat. Ya emang sih ngga semua makanan yang kita beli di luar itu tidak sehat *takut dimasa sama pedagang makanan*. Yang jadi masalah adalah kita tidak tahu mana sehat mana yang tidak. Apalagi anak-anak ya, ngga terlalu memperhatikan hal-hal kayak gitu, mana yang keliatan enak, banyak yang beli, pengen beli juga. Makanya biar aman bawa bekal saja dari rumah.

Membentuk pola hidup sehat pada anak harus dibiasakan sejak dini. Kita sebagai orangtua mencontohkan, niscaya mereka akan meniru. Seperti bekal makanan tadi. Bagi Thifa wajib hukumnya pas pergi-pergi kita membawa bekal dari rumah, minimal air putih lah, kalo kulkas lagi mengalami masa paceklik hahaha.

Apalagi sekarang di media marak diberitakan tentang jajanan tak sehat. Anak-anak terkena diare setelah menyantap jajanan “ini” atau keracunan masal sesaat setelah mengonsumsi makanan “itu”. Ngeriii

sumber: indosiar.com

sumber: indosiar.com

sumber: indosiar.com

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebelum penyakit yang aneh-aneh menghinggapi kita terutama anak-anak lebih baik mencegahnya dengan membiasakan pola hidup sehat.

Apa saja pola hidup sehat yang saya tanamkan pada Thifa?

Membuang sampah pada tempatnya. Sepele kedengarannya. Tapi banyak loh orang tua yang tidak menanamkan ini kepada anak-anaknya. Bahkan kalo anaknya habis makan sesuatu kemudian bertanya pada ortunya, “Mah, ini buang dimana?” Jawaban si ortu, “Udah di situ aja,” sambil nunjuk selokan.

Memberi tugas sederhana. Thifa sangat menunjukkan ketertarikan membantu pekerjaan emaknya seperti mencuci, menyapu, mengepel, sampai gendong adiknya. Tapi namanya juga anak baru 3,5 tahun ya hasil pekerjaannya bisa-bisa menciptakan pekerjaan baru bagi emaknya hihi. Tapi saya tidak serta merta melarangnya sih. Biasanya dia saya berikan tugas sederhana seperti mengelap meja, menaruh pakaian kotor dsb. Yang penting telah tertanam pada dirinya akan pentingnya kebersihan dan dia sedikit demi sedikit belajar untuk melakukannya secara mandiri.

Membiasakan minum air putih. Kalau saya mengamati cukup banyak anak-anak yang tidak suka air putih, maunya minuman berasa entah itu susu, sirup atau teh. Thifa sebaliknya, kalau dia bilang haus, beberarti dia ingin minum air putih bukan yang lain. Saya membiasakan dia minum air putih, air yang paling menyehatkan dibanding minuman yang lain. Termasuk ketika baru bangun tidur, Thifa selalu saya suruh mengkonsumsi air putih terlebih dahulu.

Membaca doa tiap hendak melakukan sesuatu. Selain sehat jasmani, rohani juga harus sehat kan? Sampai sekarang Thifa sudah hafal beberapa doa harian seperti doa mau makan, mau tidur, bepergian, dan doa setelah sholat. Saya tidak memaksa dia menghapal. Biasanya sebelum melakukan sesuatu saya mencontohkan membaca doa terlebih dahulu, karena sering mendengar lama-lama dia menjadi hapal sendiri.

Mandi dua kali sehari. Thifa sekarang udah minta mandi sendiri. Biasanya setelah buang air kecil dia meminta saya keluar. “Mamah urus adek aja, aku bisa mandi sendiri.” Kalo udah selesai biasanya tetep saya cek hasilnya sih. Kalo masih licin-licin gitu badannya saya bersihin lagi. Ya namanya juga anak belajar mandiri.

Buang air, cuci tangan, cuci kaki setelah main, pulang bepergian, dan mau tidur. Thifa ngga selalu mau saat saya suruh tapi saya berusaha membujuknya sedemikian rupa. Mengalihkan pembicaraan biar dia lupa dengan penolakannya sambil menuntunnya ke kamar mandi. Akhirnya tanpa dia sadari, dia udah buang air kecil, cuci kaki, dan cuci tangan, yeayyy! Berhasil.. berhasi… (ala Dora).

Sikat gigi dua kali sehari. Yang paling susah biasanya sikat gigi sebelum tidur. Pake drama nangis-nangisan. Biasanya saya siasati dengan menyanyikan lagu yang berkaitan dengan sikat gigi. “Aku gigi mulut rumahku, agar sehat dan kuat aku harus disikat setiap hari..” Thifa suka dan akhirnya mau sikat gigi.

Thifa sikat gigi dulu yaaa

Thifa sikat gigi dulu yaaa

Mengurangi cemilan yang mengandung bahan pengawet dan pemanis. Sebagai gantinya saya selalu menyediakan buah-buahan di kulkas. Tidak perlu yang mahal. Karena anggaran yang terbatas, saya seringnya sedia buah yang murah meriah kayak pepaya, salak, atau semangka. Buah yang sedang musim harganya juga murah tuh.

Membawa bekal saat bepergian seperti yang pernah saya ceritakan di atas. Bekal yang sehat harus disimpan di wadah yang sehat juga.Makanan yang sehat bisa jadi tidak berarti kalau wadah yang digunakan mengandung zat-zat yang berbahaya. Saya lebih memilih menggunakan wadah plastik yang ringan dan tidak membahayakan saat dipegang anak-anak (tidak seperti kaca yang pecahannya bisa membahayakan). Tapi tidak semua wadah plastik aman lho. Ada yang memang baik untuk menyimpan makanan maupun minuman, ada yang tidak, ada juga yang tidak boleh dipakai berulang alias sekali buang. Amati kode yang biasanya ada di bagian bawah kemasan. Wadah yang aman digunakan biasanya bersimbol sendok dan garpu. Biasanya juga terdapat gambar segitiga yang di dalamnya ada kode. Untuk wadah makanan yang aman bagi kesehatan bisa digunakan berulang kodenya adalah PP dan LDPE.

Saya mempercayakan wadah makanan dan minuman pada tupperware, yang sudah dikenal memiliki produk yang aman berkualitas, model dan warnanya juga selalu menarik, bergaransi seumur hidup pula.

Bekal Ayah ke kantor

Bekal Ayah ke kantor

Bekal Thifa sekolah

Bekal Thifa sekolah

Begitulah sedikit demi sedikit saya latih Thifa untuk hidup bersih, sehat dan mandiri. Moga kebiasaan baik ini akan terbawa sampai ia dewasa nanti. Aamiin.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba yang diselenggarakan olehTupperware Indonesia
Karakter Hidup Bersih, Sehat dan Mandiri Anak Indonesia


TAGS lomba blog tupperware mendidik anak pola hidup sehat mendidik anak mandiri wadah makanan yang aman


-

Author

Follow Me