Mindset, Ketika Yakin Bisa, Pasti Bisa

12 Sep 2013

gambar: search google

gambar: search google

Mindset, kata orang-orang mindset itu artinya pola pikir yang mempengaruhi pola kerja.

Jadi kalo dalam pikiran kita, yakin saat melakukan suatu hal untuk tujuan tertentu, prilaku kita akan mengarah untuk mencapai tujuan itu. Dalam hal mindset, ketika yakin bisa, pasti bisa.

Seringkali, orang-orang (termasuk saya sendiri) dalam hal berusaha udah minder duluan. Misalnya waktu mau wawancara kerja, dalam hati bicara, “Alah palingan ngga lolos”. Terkadang ini kita maksudkan biar kalo beneran ngga lolos, ngga kecewa-kecewa amat, mempersiapkan diri untuk gagal lah istilahnya. Tapi, karena pola pikir itulah akhirnya mempengaruhi pola kerja kita. Kita jadi terlihat gugup, ngga pede, dan tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Karena dari awal kita sudah berpikir akan gagal.

Saya sendiri sudah beberapa kali membuktikan. Salah satunya waktu Thifa masih bayi dulu.

Sebagai ibu baru, saya masih sangat canggung saat menyusui Thifa. Bingung mencari posisi yang pas, supaya saya dan dia sama-sama merasa nyaman. Air susu pun sepertinya hanya keluar sedikit sekali.

Akhirnya selain ASI saya berikan juga dia tambahan susu formula. Sampai kira-kira usia dua setengah bulan, saya chatting dengan seorang teman lama. Waktu tahu Thifa dikasih susu formula langsung dia ceramahin saya panjang lebar.

Kata dia, seharusnya bayi hanya diberi ASI saja sampai usia enam bulan. Waktu saya kasih alasan, Thifa masih merasa kurang jika hanya menyusu dari saya saja, dia langsung menyanggah. Katanya ASI itu prinsipnya supply and demand. Berapa yang dibutuhkan bayi pasti akan disediakan. Jadi ngga mungkin kurang. Kuncinya adalah PD. Kita harus yakin bahwa ASI kita mencukupi kebutuhan si bayi.

Dari dulu temen saya itu emang kompor. Seketika itu saya langsung terpengaruh dengan perkataan dia, saya ubah mindset saya, saya harus yakin bahwa saya bisa memberikan ASI saja kepada Thifa.

Dan bener, saya berhasil. Hanya dengan modal percaya diri yang saya tanamkan pada otak saya. Saya ngga minum jamu memperlancar ASI atau susu ibu menyusui karena memang saya kurang suka.

Masih perlu contoh lain tentang mindset, ketika yakin bisa, pasti bisa.

Oke, cerita ini lebih lampau lagi. Waktu itu ceritanya saya lagi menyusun TA, jadi di kos banyak nganggurnya. Nah daripada ngelangut bingung mo ngapan, saya, kakak saya, dan salah seorang temen kos berencana ikutan les bahasa Inggris.

Tujuan saya ikut les bahasa Inggris waktu itu, jujur ya, untuk nyari pasangan. Pertama karena saya udah semester lima. Dari dulu saya udah mentargetkan semester lima harus dapet calon suami. Dan yang kedua, temen-temen kos juga pada udah punya gandengan masing-masing. Bete juga tiap malam minggu sendirian mulu.

Tempat les bahasa Inggris yang kami pilih lumayan jauh dari kos. Dapat jadwal malam pula. Sebenarnya sempet galau, jadi les di situ apa cari di tempat lain yang lebih deket. Apalagi kita lesnya bertiga, motor cuma satu. Kalo saya berboncengan dengan kakak, temen saya gimana nasibnya? #sokperhatian

Tapi saya meyakinkan dia untuk tetap les disitu aja. Untuk sementara dia diantar jemput sama calon kakak iparnya. Saya bilang gini sama dia, “Ntar gampanglah, sambil jalan, pasti akan ada pangeran berkuda putihyang bakalan mau mengantar jemputku. Nah kalo udah gitu silahkan kamu berboncengan motor sama kakakku ke tempat les.”

Dan benar, di tempat les itulah saya bertemu ayah. Berawal dari tukang ojek pribadi, berlanjut ke pelaminan. Saya berhasil mendapatkan calon suami karena memang dari awal niat nya ke situ. Lah trus bahasa Inggrisnya? Ya tetep aja grotal-gratul ga keruan meskipun udah les hihihi.


TAGS mindset percaya diri yakin tips sukses #30HariNonStopNgeblog


-

Author

Follow Me