f54843c0b2d0a4bd5b437983d18d67e8_menulis-cepatSaya pernah baca sebuah buku yang saya lupa judul bukunya apa, dan pengarangnya siapa, tapi yang jelas buku itu masih ada di rumah orang tua saya (nanti kalo pulang saya lihatkan ya). Katanya kurang lebih begini, ajarkan anak menulis cepat bukan menulis indah.

Yang saya tangkap waktu itu adalah, menulis cepat meskipun ala kadarnya lebih penting daripada menulis indah tapi lambat. Bayangin aja, kalo seorang wartawan saat mewawancara narasumber menggunakan tulisan indah, begitu kurang indah dikit dihapus, tulis lagi, hapus lagi, bisa mangkel yang diwawancara!

Tapi akhir-akhir ini, disaat saya mulai rajin nulis blog saya punya pandangan lain. Saya rasa pesan tadi ngena banget ke saya. Lo, memang nulis blog pake balpoin atau pensil? Kok bicara tentang nulis indah segala?

Jadi begini ceritanya. Sudah lama banget saya pengen jadi penulis, puncaknya adalah ketika teenlit mulai populer dan menjamur di Indonesia, hmm kira-kira tahun 2004an lah. Tergiur dengan royalti yang lumayan gede (kalo bukunya laku loh) saya juga memutuskan ingin jadi penulis. Akhirnya saya pun mulai memikirkan sebuah ide cerita untuk dibuat novel, sayangnya novel itu ngga pernah selesai, karena seringnya saya menekan tombol delete dan backspace pada komputer. Baru nulis dikit, dibaca, kok kayaknya kata-katanya kurang bagus, hapus. Nulis lagi, baca lagi, kurang bagus lagi, hapus lagi, begitu seterusnya sampai saya bosen, dan mencampakkan naskah itu begitu saja.

Rupanya saat itu saya lebih memntingkan keindahan tulisan, bukan kecepatan. Kecepatan yang dimaksud disini bukan berarti nulis asal-asalan ngga jelas juntrungannya. Tapi menulis, apa saja yang ada dalam pikiran kita. Tulislah apa yang memang ingin kita tulis, tanpa mempedulikan keindahan kata di awalnya.

Jonru, seorang penulis senior menyarankan hal yang sama. Pada saat menulis, gunakanlah otak kanan, istirahatkan sementara otak kiri. Tidak perlu memikirkan ketepatan susunan kata, kesesuaian dengan EYD, dan aturan-aturan baku lainnya dalam menulis yang (mungkin) pernah kita pelajari di bangku SD. Nanti, setelah tulisan itu selesai barulah kita aktifkan kembali otak kiri untuk mengoreksi tulisan kita tadi, mempercantik tata bahasanya, sehingga siap untuk di publish.

Kenapa saya kurang produktif dalam menulis? Setelah saya evaluasi itulah penyebabnya. Saya sebenarnya punya banyak ide tapi bingung bagaimana menuliskannya biar enak dibaca. Akhirnya, di komputer saya ada beberapa file yang isinya cuma satu paragraf tulisan, karena saya merasa tidak mampu mengembangkannya.

Pernah beberapa kali saya menulis lancaaaar banget, pokoknya apa yang ada dalam pikiran langsung saya tumpahkan begitu saja. Hasilnya, tulisan selesai dengan cepat, hati terasa plong, dan saya juga puas ketika membacanya. Saya rasa ini yang disebut “menulis dari hati”.

Nah, saya, dan anda sudah tahu teorinya. Saatnya kita sama-sama berlatih, menulis cepat, bukan menulis indah. Tapi kalau bisa dua-duanya (udah cepat indah pula) boleh lah…


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?