Habis buka-buka fesbuk dan membaca status seorang teman yang mengatakan, Aku tidak akan memaksanya harus lebih menyukai Barbie dan rumahnya daripada mobil ferrarinya, atau memaksanya belajar melukis daripada membongkarpasang rangkaian kereta apinya..anakku perempuan dan dia bisa berkembang jadi apapun yg dia inginkan.

Spontan dalam hati saya nyeletuk, Bagaimana jika anakmu laki-laki, dan ia lebih menyukai Barbie daripada mainan mobil Ferrari?

9356ed9c88f34640d5b2769fb452cdc1_emansipasi

men & women

Sebenarnya pertanyaan ini berlaku buat diri saya sendiri juga. Saya yang seorang ibu dengan satu anak perempuan bisa dipastikan memberi perlakuan yang sama kepada anak, seperti status fesbuk teman saya tadi. Anak perempuan saya mau main boneka, mobil-mobilan, masak-masakan, atau panjat-memanjat, ya biarkan saja. Tapi kalau anak saya lelaki, kemudian dia lebih suka main bola bekel daripada bola kaki, saya pasti akan resah gelisah nggak ketulungan. Saya juga tidak mungkin menuruti permintaan dia suatu saat nanti untuk mengecat tembok kamarnya dengan warna pink ditambah beberapa aksen bungan di tiap sudutnya.

Nah, pertanyaan ini menimbulkan sederet pertanyaan-pertanyaan baru menyangkut kesetaraan gender antara pria dan wanita, seperti:

Kenapa wanita pake celana itu biasa, sementara laki-laki memakai rok itu aneh?

Ada menteri peranan wanita lalu mana menteri peranan laki-laki?

Di Indonesia, tiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu, hari bapak kapan dong?

Waktu sekolah dulu, murid cewek boleh berambut pendek, tapi kenapa murid cowok ngga boleh berambut panjang?

Istilah tenaga kerja wanita ada, tapi kenapa ngga ada tenaga kerja pria?

Menjelang hari Kartini yang kita peringati setiap tanggal 21 April pasti akan banyak suara yang menggembar-gemborkan emansipasi wanita. Tapi saya kok jadi punya pikiran lain ya. Jangan-jangan, seharusnya laki-laki lah yang menuntut kesetaraan gender, hehehe…

Selamat hari Kartini :)


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?